Pernyataan yang dikeluarkan Ahok ini bukan lagi sebatas sebuah langkah politik kampanye dalam Pilkada Jakarta, tetapi pernyataan yang telah menyerang dan melecehkan keyakinan umat beragama lain yang tidak bisa dianggap remeh di saat pemerintah berupaya membangun kerukunan antar umat beragama di Indonesia.
Pernyataan Ahok Membuat Takut Warga Tionghoa
Bukan hanya rasa kekhawatiran yang dirasakan umat non Islam, etnis Tionghoa pun khawatir.
Menurut Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) Lieus Sungkharisma, pernyataan Ahok itu bisa berdampak buruk bagi warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
“Ahok sepertinya sengaja memainkan isu SARA itu untuk memancing reaksi umat Islam agar mereka bertindak di luar batas dan melanggar hukum. Saya berharap umat Islam tidak terpancing. Anggap saja Ahok itu orang tolol yang sedang bernasib baik, itu saja,”. Namun demikian, Lieus sangat khawatir ujaran-ujaran Ahok yang sering mengadu domba dan bermuatan SARA itu, cepat atau lambat akan berdampak pada warga keturunan Tionghoa di Indonesia.
“Bukan mustahil masyarakat yang jengkel akan bersikap pukul rata bahwa semua orang Tionghoa sama seperti Ahok. Dan kalau itu terjadi, siapa yang bisa mencegah peristiwa rasial seperti tahun 1948 di Solo atau 1965 di Medan tidak akan terulang lagi?” ujarnya.
Kemarahan Umat Islam Hingga ke Tanah Maluku, Ahok Di Tantang Warga Maluku Untuk Membuat Pernyataan Yang Sama Di Depan Warga Maluku
“Itu artinya Ahok menganggap Al-Quran adalah pembohong,” ujar Sandy Warga Tobelo, Halmahera Utara Propinsi Maluku Utara. Sambil mengingatkan Ahok, jika Islam bukan hanya ada di Kepulauan Seribu atau Jakarta saja.
Salah satu rekan Sandy yang juga ikut mendengarkan langsung dan berbicara dengan redaksi pembawaberita.com melalui speaker Handphone, Bambang sangat ingin bertemu Ahok secara langsung dan mendengar Ahok mengatakan sekali lagi dihadapan mereka.
“Saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Ahok, jika dia mengatakan itu didepan langsung warga muslim di Maluku, Maluku Utara atau di depan warga muslim di Poso,” ujar Sandy yang tidak mau melanjutkan ucapannya apa yang akan terjadi.
Sandy pun merasa heran, karena tampaknya warga muslim Jakarta sepertinya tidak terlihat ataupun merasa terganggu dengan ucapan Ahok yang mengatakan jika Surah Al Maidah ayat 51 adalah kebohongan, yang menurutnya secara tidak langsung, Ahok menganggap jika Al-Quran beserta isinya semua adalah kebohongan.
Sandy akhirnya meminta kepada redaksi pembawaberita.com, untuk menyampaikan keinginan mereka soal Ahok dan sepak terjangnya dalam menghina Islam yang bukan pertama kali.
“Jika Allah SWT mengijinkan, dan kami bertemu Ahok, mohon tidak kembali mengucapkan kalimatnya, karena jika Ahok tetap bersikeras untuk tetap mengatakan isi Al-Quran hanyalah kebohongan, ataupun menghina Agama Islam secara langsung, maka kami cuma ingatkan sangat fatal akibatnya buat diri Ahok,” ujar Sandy menutup pembicaraan.
Apa Polri Berani Sama Ahok?
Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan, mendesak kepolisian tetap menindaklanjuti laporan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Menurut dia, ucapan permintaan maaf Ahok terkait ucapannya yang mengutip salah satu surat dalam kitab suci Al-Quran, yakni Al-Maidah ayat 51, tidak berarti masalah selesai. Amirsyah melanjutkan, Ahok harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Maaf sudah dimaafkan. Tapi masalah hukum, harus tetap berjalan," ujar dia di kantornya, Jalan Proklamasi, Jakarta, 10 Oktober 2016. Menurut Amirsyah, permintaan maaf Ahok itu persoalan umat manusia, dan harus saling memaafkan. Tapi, kata dia, polisi harus menanggapi Ahok yang dilaporkan berbagai pihak.

0 komentar:
Posting Komentar