Home » » Nice France Tragedy!

Nice France Tragedy!

Posted by Mata Indonesia

Tragedi di kota Nice tidak terlepas dari perbuatan buruk Pemerintah negara Perancis saat ini yang harus ditanggung oleh rakyatnya.

Sebut saja Mali, sebuah negara yang berada di Afrika bagian Barat, terkurung dalam daratan yang berbatasan dengan 6 negara, yaitu Aljazair, Niger, Burkina Faso, Pantai Gading, Guinea dan Mauritania. Negeri yang di era imperialisme ini dahulu pernah berada di bawah jajahan Perancis.


Secara global Mali dibagi menjadi dua wilayah, yaitu utara dan selatan. Ibukota Mali yang bernama Bamako berada di wilayah selatan.

22 Maret 2012 terjadi kudeta di Mali terhadap pemerintahan yang sah oleh Mayor Amadou Haya Sanogo yang disponsori oleh blok Masyarakat Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS) dan negara-negara Barat seperti Amerika dan para sekutunya. Berbeda dengan wilayah lain, di wilayah Mali Utara kelompok Islam berkuasa dan bercita-cita ingin mendirikan negara Islam Mali.

Mengetahui adanya keinginan untuk didirikannya negara Islam di Mali membuat Barat dan Eropa kepanasan. Barat dan Eropa pun lalu mengatur strategi untuk menggelar invasi militer ke Mali.

Sampai pada puncaknya pada hari Kamis (10/1/2013) tepat satu hari setelahnya, Perancis mulai mengatur strategi menggelar skenario agenda awal invasi Mali, yaitu mendukung dan mendanai militer lokal Mali untuk mendapatkan kembali Mali Utara dari tangan para militan Islam tanpa harus turun tangan langsung mengirimkan kekuatan militer.


Akhirnya Perancis mengirimkan armada militernya langsung dengan tujuan invasi adalah menghentikan laju kelompok Islam ke wilayah selatan Mali, Perancis tidak ingin terlambat dengan diam saja membiarkan kelompok Islam menguasai Mali dan menegakkan hukum Islam dan tentunya juga karena ingin menguasai kekayaan alam yang ada di Mali.

Seperti yang diberitakan oleh kantor berita Perancis AFP, bahwa propaganda keberadaan kelompok Islam di Mali dapat memberikan ancaman bagi Eropa karena akan dijadikan sebagai tempat perlindungan bagi para “teroris”, ini yang disampaikan oleh Menteri Pertahan Perancis, Jean Yves Le Drian.


Perancis yang sekuler cemas dengan negeri persemakmurannya dimana ideologi sekuler yang sudah mereka tanam di Mali oleh kelompok Islam di sana. Ini yang tidak bisa mereka terima, mereka tak akan tinggal diam membiarkan Mali kembali kepada identitasnya semula sebagai negara muslim.

Dibalik Invasi Perancis ke Mali
Dengan dalih misi kemanusiaan dan ancaman terhadap Eropa, Perancis maju seakan sendirian untuk mengurusi permasalahan ini. Seorang analis di situ berbahasa Arab Islamtoday, Hisyam An-Najar menyebut ada beberapa alasan mengapa Perancis menginvasi Mali:

Pertama, Perancis ingin menguatkan hagemoninya di wilayah jajahannnya di masa imperialisme dulu. Dimana di dalamnya telah ditanam benih-benih sekuler lengkap dengan bahasa dan budaya Perancis.

Kedua, Perancis ingin membayar kekalahannya di Afghanistan, setelah pasukannya harus menanggung malu kalah ditarik dari negeri para Mullah itu. Tentara Perancis harus keluar dari Afghanistan dengan membawa kerugian yang besar baik secara materi maupun SDM para tentaranya. Dan banyak dari tentaranya yang mati sia-sia di sana.

Ketiga, upaya untuk menggagalkan berdirinya sebuah negara yang dapat menampung milisi bersenjata dari kelompok Islam dari berbagai negara, yang dikhawatirkan akan lahir sebuah negara baru berlandaskan Islam yang mengancam eksistensi negara Barat dan Eropa di Afrika dan sekitarnya. Agenda seperti ini pulalah yang dipakai oleh Amerika ketika akan melakukan invasi terhadap Irak, Afghanistan dan Somalia.

Keempat, krisis ekonomi yang menimpa negara-negara Eropa, dimana majalah pekanan terbitan Perancis, Le Journal du Dimanche menyebut Presiden Perancis yang mengirimkan pasukannya ke Perancis melakukan itu untuk membangun image setelah selama ini Perancis diberikan stempel sebagai negara yang lemah karena krisis ekonomi dan sosial. Dengan cara ini Francois Hollande berusaha mengalihkan perhatian publik dari krisis yang melanda negerinya, sehingga dapat mengangkat kembali popularitas Perancis.

Kelima, wilayah selatan Mali memang dikenal memiliki kekayaan yang luar biasa, kaya dengan uranium, gas dan fosfat. Pihak Perancis melihat adanya cadangan minyak di wilayah Taodney Meuretania dan juga wilayah timur di Azawad. Pemerintah sebelumnya yang dikudeta telah memberikan kesempatan kepada 6 perusahaan asing untuk mengeksplore wilayah tersebut.

Bagi Perancis membiarkan kelompok Islam menguasai wilayah kaya alam di Mali adalah sebuah kerugian besar, karena pastinya mereka tidak akan memberikan izin kepada perusahaan asing seperti Perancis untuk masuk ke sana. Kalaupun bisa, tentunya akan ada kesepakatan yang keuntungannya justru akan memperkuat kelompok Islam yang berkuasa, dan ini sangat merugikan bagi Perancis dan negara Barat dan Eropa.


Apa yang terjadi di Mali hakekatnya adalah perlawanan terhadap kekuatan Islam. Dengan diwakili Perancis invasi ke Mali ini memberikan pesan bahwa mereka tidak akan membiarkan Islam berjaya di belahan bumi manapun. Disamping itu Perancis juga ingin menancapkan kembali kekuasaannya di Mali.

Namun sayang, sepertinya Perancis salah langkah, karena ia justru akan melewati perang panjang di Mali, sama seperti apa yang dirasakan oleh sekutunya Amerika, bagaimana perang di Afghanistan dan Irak tak kunjung berakhir, belum lagi kali ini para kelompok Islam yang saat ini berjuang melawan invasi Perancis ditanah kelahiran mereka berniat membawa penderitaan rakyat Mali untuk dirasakan juga oleh rakyat Perancis.


0 komentar:

Posting Komentar

More Happy