Home » » Pabrik Kertas Perum Peruri Karawang

Pabrik Kertas Perum Peruri Karawang

Posted by Mata Indonesia

Perum Peruri merupakan satu-satunya perusahaan di Indonesia yang punya kewenangan mencetak uang rupiah, baik kertas maupun logam. Pabrik pencetak uang Peruri memiliki pengamanan ketat.

Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 202 hektar di Karawang ini dijaga ketat oleh aparat keamanan. Tak sembarang orang bisa masuk, apalagi yang tak punya kepentingan. Beberapa dari mereka ada yang membawa senjata lengkap.

Area pabrik dibagi menjadi beberapa gedung percetakan, yaitu percetakan uang kertas, uang logam, kertas non tunai, hingga logam non tunai. 

Ketatnya penjagaan pun terdapat di masing-masing gedung tersebut.

Contohnya di gedung percetakan uang kertas. Di depan gedung, petugas keamanan datang menyambut. Sebelum masuk, barang-barang bawaan harus disimpan di loker yang sudah disediakan.

Pengunjung pun tak diperkenankan membawa telepon genggam atau ponsel, dan barang-barang lain. Tak hanya itu, sebelum masuk melihat bagaimana proses produksi uang tersebut, uang milik pengunjung yang dibawa harus ditaruh di dalam loker. Pengunjung hanya membawa 'badan' saja.

"SOP-nya (standard operating procedure) begitu," ujar salah seorang staf Peruri.

Setelah selesai melakukan kunjungan, satu persatu pengunjung dipersilakan masuk ke dalam ruang penggeledahan. Pria dan wanita dipisahkan dalam sebuah ruangan penggeledahan tertutup, yang di dalamnya sudah ada petugas keamanan. Petugas keamanan itu akan menggeledah seluruh bagian tubuh hingga menyuruh kita untuk membuka sepatu. Di ruangan itu pun terdapat CCTV yang menurut informasi selalu diaudit setiap 3 bulan sekali.

Karyawan di divisi percetakan uang kertas yang jumlahnya mencapai lebih dari 1.000 ini tampak serius melakukan pekerjaannya. Ada yang bertugas mengoperasikan mesin, memeriksa hasil uang, menghitung, dan sebagainya. Salah sedikit, uang itu pun menjadi tak berharga.

Salah satu pekerja di Pabrik Perum (Perusahaan Umum) Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia) Erwin (32) mengaku sudah terbiasa melihat secara langsung tumpukan uang dalam berbagai pecahan.

"Saya sudah lama bekerja di sini jadi sudah biasa gitu kalau melihat uang bertumpuk-tumpuk," ucap Erwin kepada merdeka.com di Pabrik Peruri, Karawang.

"Kalau kita (pekerja) yang penting bukan uang fisiknya, tapi nominal uang yang ada di rekening," canda Erwin.

Ketatnya pengawasan membuat pekerja tidak bisa sembarangan mengambil uang hasil produksi. Erwin menambahkan, jika dia menemukan satu lembar saja uang kertas, maka benda itu akan dia buang.

"Daripada kita dikira mencuri atau kenapa-kenapa ya mending digeletakin gitu aja uangnya," ungkapnya.

Erwin mengungkapkan, jika pekerja melanggar ketentuan, maka ancamannya yakni pemotongan gaji bulanan mereka atau kerap disebut proses tilang.

"Iya, kalau misalnya pas diperiksa ditemukan uang, itu kita kena tilang. Potong gaji 10 persen, atau ada beberapa ketentuan lainnya," ungkap Erwin.

Terkait hal itu, Kepala Divisi Percetakan Uang Perum Peruri Samad Haryono tidak menampik seluruh perkataan yang diutarakan Erwin. Ketatnya peraturan berlaku hingga para petinggi perusahaan.

"Ketentuan itu berlaku untuk semua pegawai termasuk direktur-direktur," ucapnya.

Bahkan, Samad mencontohkan, jika ada salah satu direktur atau staf terkait yang membawa beberapa tamu untuk melakukan kunjungan, jika tamu tersebut melanggar maka yang dijatuhkan sanksi si pegawai yang mengundang tamu tersebut.

"Misal saya bawa beberapa tamu untuk berkunjung. Lalu mungkin tamu itu jahil jadi mengambil uang atau pelanggaran lainnya. Ya yang kena tilang saya. Karena saya toh yang mengajak tamu itu," tandas Samad.




0 komentar:

Posting Komentar

More Happy