PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FSW) membidik pendapatan sebesar Rp6 triliun di 2016. Angka itu stagnan dari target di tahun ini yang masih mencapai Rp6 triliun.
Target pendapatan di 2016, menurut Direktur Utama Fajar Paper, Yustinus Kusumah, didapatkan dari penambahan kapasitas baru sebanyak 25 persen di tahun depan.
Penambahan kapasitas sendiri merupakan hasil dari alokasi rencana bisnis perseroan dengan menganggarkan dana belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar USD165 juta di 2016.
"Kami akan bangun mesin kertas 8 (PM 8) untuk produk corrugated medium paper berkapasitas 350.000 ton pertahun yang akan menambah kapasitas saat ini yang mencapai 1,2 juta ton pertahun. Proyek kami targetkan selesai di kuartal I-2017," tegas Yustinus, ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (22/12/2015).
Periode Januari-September 2015, volume penjualan perseroan mencap 713.000 ton dengan nilai Rp3,6 triliun Sebanyak 16,13 persen dari volume penjualan diekspor, sedangkan selebihnya dipasarkan di dalam negeri.
Mengenai proyeksi laba, dia mengklaim, perseroan akan meraih keuntungan (laba), jika kurs rupiah
terhadap USD stabil di level Rp13.000 per USD.
Sebagaimana diketahui, selama sembilan bulan pertama tahun ini perseroan menderita rugi sebesar
Rp428,96 miliar, dibandingkan untung yang didapat pada periode sama tahu lalu sebsar Rp98,63 miliar. Rugi yang didapat tahun ini karena depresiasi rupiah yang menyebabkan tercatatnya rugi kurs sebanyak Rp592,33 miliar.
Agar meraih kinerja yang baik, perseroan pun di 2016 akan melakukan hedging sesuai dengan
peraturan BI di kisaran 20 persen dari utang. Posisi utang dolar perseroan sebanyak 50 persen dari total liabilitas yang sebesar Rp4,5 triliun per September 2015.
"Kami tidak berencana mengkonversi utang valas ke rupiah. Hal ini karena perseroan mendapatkan bahan baku 5 persen dari impor dan sisanya domestik. Kami masih impor karena memang suplai domestik belum mencukupi," tutur dia.
Selain itu, perseroan juga tidak berencana meningkatkan ekspor yang saat ini posisinya sebesar 15 persen dari total pendapatan. Perseroan memilih fokus menjaga pangsa pasar domestik yang mencapai 30 persen, dengan saingan terberat yaitu PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP)
yang juga menggenggam market share 30 persen di seluruh Indonesia.
Meski begitu, Yustinus masih tetap optimis tingkat penjualan akan meningkat tahun depan, karena produk kertas perseroan langsung berhubungan dengan industri barang konsumsi, dengan pelanggan dari perusahaan-perusahaan besar seperti Unilever dan Indofood.
"Kami prediksi barang konsumsi tahu depan meningkat, produk makanan dan minuman akan tumbuh lima persen, ini akan menyebabkan volum meningkat seiring harga yang saat ini sudah cukup baik. Kami estimasikan di kuartal I-2016 ada peningkatan penjualan 15 persen," terang Yustinus.
Saat ini, perseroan memiliki pabrik di Cikarang yang mengoperasikan tujuh mesin kertas dengan kapasitas total 1,2 juta ton per tahun, terdiri atas coated duplex, board, dan kraft liner. Penambahan mesin terakhir telah disalurkan sejak 2006.

0 komentar:
Posting Komentar