Home » » Reaksi Para Pemimpin Dunia Yang Terduga Terlibat Skandal Panama Paper

Reaksi Para Pemimpin Dunia Yang Terduga Terlibat Skandal Panama Paper

Posted by Mata Indonesia

Perusahaan yang dibobol datanya adalah perusahaan firma hukum di Panama, Mossack Fonseca, yang selama ini sering membantu banyak tokoh maupun perusahaan untuk memindahkan harta ke tempat bebas pajak (offshore).

Sejumlah nama pemimpin dunia ikut terseret dalam kasus ini, sebut saja Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson, dan bahkan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Bocornya Panama Papers ini berbuntut panjang hingga demo meminta pemimpin negara untuk turun jabatan.
 
Berikut berita reaksi para pemimpin dunia setelah nama mereka mencuat diduga terlibat dalam skandal Panama Paper:

1.

PM Islandia percepat pemilu sela


Perdana Menteri Islandia Sigmundur David Gunnlaugsson terpaksa menggelar pemilu sela dalam waktu dekat karena tekanan parlemen. Dia menjadi salah satu korban bocornya data Panama Papers.

Gunnlaugsson dan istrinya Anna, mempunyai 50 saham di perusahaan Wintris Inc pada 2007, persis sebelum krisis global. Perusahaan ini menyimpan uang, tanpa kena pajak oleh otoritas Islandia, di Kepulauan British Virginia.

Sebagian saham itu mereka jual pada 2009 silam dengan dugaan mengemplang pajak. Ketika ditanya oleh wartawan mengenai aset-asetnya, PM Gunnlaugsson mengelak. Dia membantah pernah melakukan transfer saham ataupun aset lainnya memanfaatkan perusahaan di negara bebas pajak (offshore).

"Perusahaan yang saya miliki tidak punya hubungan dengan lembaga offshore manapun. Saya juga tidak memiliki aset tersembunyi," kata Gunnlaugsson, yang kemudian menolak diwawancarai lebih lanjut.

Isu ini menjadi pergunjingan besar di Islandia, sebab negara itu pada 2008 mengalami krisis ekonomi parah.

Wintris, perusahaan keuangan yang dikendalikan Gunnlaugsson, membeli obligasi bank-bank besar di Islandia selama periode krisis tersebut. Nilainya mencapai 500 juta krona. Aksi pembelian obligasi Gunnlaugsson pada masa lalu sekarang dikaitkan dengan pemicu ambruknya perbankan Islandia selama krisis global.

Dari bocoran Panama Papers ini, otoritas fiskal Negeri Kanguru bisa memperoleh lebih dari 800 nama konglomerat yang diduga menggelapkan pajak. "Dari data tersebut, 120 di antaranya memakai jasa asosiasi offshore di Hong Kong," seperti dikutip dari pernyataan tertulis ATO.

2.

Pemerintah China menyensor artikel Panama Papers dari internet


Terseretnya nama Presiden China Xi Jinping dalam bocoran dokumen Panama Papers membuat pemerintah Negeri Tirai Bambu ketar ketir. Kemarin (4/4) pengguna internet di Negeri Tirai Bambu masih mudah menemukan artikel atau mengobrolkan 'Panama Papers' lewat Sina Weibo atau WeChat. Namun sejak semalam, nyaris semua artikel terkait kata kunci itu raib, seperti dilansir BBC.

Di Sina Weibo, sebelum ada aksi sensor, tercatat 481 diskusi mengenai nama-nama pejabat pemerintahan di Beijing yang memiliki aset di negara surga pajak. Salah satu sosok paling mencolok adalah Presiden Xi Jinping.

Presiden yang dikenal agresif memberantas korupsi itu dalam Panama Papers disebut aktif memindahkan kekayaan ke negara bebas pajak sejak 2009. Ketika itu, Jinping belum menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis China, serta masih aktif berbisnis.

Tak hanya menyeret nama Jinping, data itu juga mencantumkan sosok Li Xialoin, anak perempuan mantan Perdana Menteri Li Peng. Ada juga nama Jia Qinglin, cucu politikus di Politbro PKC.

Merujuk UU pejabat publik di China, petinggi partai tidak boleh memiliki aset yang ditengarai dari upaya memperkaya diri melalui jabatan. Tentu saja delapan nama petinggi partai komunis dalam Panama Papers belum tentu melakukan korupsi. Namun citra mereka di masyarakat bisa terancam, apalagi jika nantinya mereka terbukti berusaha menghindari pajak.

3.

Rusia sebut Panama Papers ingin jatuhkan nama Putin


Pemerintah Rusia membantah Presiden Vladimir Putin sebagai salah satu orang yang mengemplang pajak, meski namanya masuk dalam bocoran data Panama Papers. Mereka mengatakan bocoran dokumen itu hanya mengincar Putin, apalagi memang ada rekan orang nomor satu Rusia yang dicurigai terlibat praktik pencurian uang.

Nama Putin mencuat ketika salah satu orang dekatnya, Sergei Roldugin terlibat dalam skema pencucian uang. Roldugin diketahui mencuci dana hingga mencapai USD 2 miliar.

"Jelas sekali target utama dari serangan ini adalah presiden kami," ujar Juru Bicara Istana Kremlin Dmitry Peskov.

"Fobia terhadap Putin yang merebak di dunia sudah mencapai titik di mana ada larangan untuk mengatakan sesuatu hal yang baik mengenai Rusia. Bahkan dunia pun tidak diperbolehkan mempublikasikan pencapaian dari Rusia," tegasnya.

Peskov menambahkan ini media internasional sudah salah fokus pada Putin. Pemimpin Negeri Beruang Merah tersebut sama sekali tidak terindikasi melakukan tindakan kesalahan, ujar Peskov.

Selain itu Peskov juga menyebut International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) yang memegang peranan penting dalam publikasi ini. Menurut Peskov ICIJ memiliki hubungan dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS).


1 komentar:

More Happy