Home » » STOP Kekerasan Polisi!

STOP Kekerasan Polisi!

Posted by Mata Indonesia

[STOP! JANGAN DITERUSKAN JIKA ANDA MEMILIKI KELEMAHAN SAAT MELIHAT DARAH, MAUPUN LUKA YANG TERBUKA]

Berikut adalah foto bukti dari akun facebook Idjon Djanbi yang memperlihat pembantaian warga poso oleh Aparat Kepolisian:


Bentrokan terjadi sekitar pukul 21.15 WITA di saat warga sedang mempersiapkan tempat pelaksanaan Sholat Ied.

Satu orang warga menjadi korban pada peristiwa ini, Syaifuddin alias Udin, yang tewas tertembak pada bagian pantat.

Selain jatuh korban jiwa, juga terdapat 3 orang yang mengalami luka tembak, antara lain Rizki alias Kiki Omo, menderita 3 luka tembakan dibagian dada dan 1 tembakan di paha sebelah kanan.

Sedangkan Maslan, warga jl. Pulau Irian Jaya tertembak di bagian paha.

Kedua korban luka dirawat di RS Umum Poso pada penyerangan oleh personil kepolisian pada warga yang dikatakan termasuk ke daftar pencarian orang (DPO) serta warga yang meninggal, akibat tembakan para aparat yang membabi buta.




Dari peristiwa di saat itu tidak ada penjelasan dari instansi negara ini apalagi penghentian operasi yang banyak melukai warga negaranya sendiri.




23 Oktober 2006 bentrokan berulang antara ratusan pengantar jenazah Udin dengan anggota polisi di Jalan PulauSeram.

Massa melakukan perlawanan terhadap aparat Brimob dengan batu dan polisi melepaskan tembakan tak terarah yang menciderai tiga penduduk sipil, salah satunya adalah Galih Pamungkas, anak berusia 3,5 tahun yang sedang bermain di depan rumahnya.

Belum reda dan belum tuntas penyidikan atas insiden Oktober 2006, pada awal 2007 dimulai kembali penyergapan dan penembakan oleh personil kepolisian yang menumbangkan 3 warga negara Indonesia, diantaranya 2 meninggal.


Dari keterangan warga dan saksi mata, tidak ada satu warga pun yang memegang senjata layaknya aparat yang telah siap dengan aneka senjata otomatis seperti yang beritakan media.

Kemudian tanggal 22 Januari 2007 merupakan hari yang paling berkabung untuk masyarakat Poso, karena dari 15 warga yang ditembak tidak ada satu pun DPO.

Mereka memburu warga seperti memburu Kelinci dan dijadikan Tester kekuatan senjata. 

Ini artinya, aparat tidak lagi menjadi pengayom dan pelayan masyarakat sebagaimana fungsi dari instansi ini didirikan ditengah masyarakat.

Bahkan Tim Teror Polri telah menembaki juga lokasi perumahan warga Poso. Tetapi tidak cukup sampai disitu, pembantaian rakyat Indonesia dilanjutkan 11 hari kemudian dan memakan korban jiwa yang sangat
banyak sekali.






Itulah hasil temuan beberapa tahun lalu yang melibatkan personil Polri hingga mencoreng citra kepolisian sebagai Abdi Utama Rakyat. Juga, belum lama ini diberitakan bagaimana seorang Siyono yang menjadi korban dari kejahatan Densus 88.

Hasil otopsi pun mendapatkan bagaimana buruknya dari jasad Siyono yang mengalami patah tulang di tubuh Siyono, hingga adanya upaya oknum anggota kepolisian yang berusaha membujuk keluarga Almarhum dengan ratusan juta rupiah untuk IKHLAS dan tidak melakukan otopsi pada jasad Siyono seolah berusaha ingin menyembunyikan kekerasan yang dilakukan anggota polisi saat melakukan interogasi.


Mari dukung Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk melakukan "bersih-bersih" didalam instansinya agar terbebas dari para pelaku tindak kekerasan dan pelanggar hukum.


Abdi Utama Rakyat


0 komentar:

Posting Komentar

More Happy