Home » » Macet, Banjir, Kemiskinan Merajalela, Apa yang Dicari di Jakarta?

Macet, Banjir, Kemiskinan Merajalela, Apa yang Dicari di Jakarta?

Posted by Mata Indonesia

 Apa yang Dicari di Jakarta?

Kemacetan Bikin Wisatawan Asing Enggan ke Jakarta

Sekarang ini, Jakarta dengan penduduk 11 juta pada siang hari dan delapan juta pada malam hari, memikul tugas berat. Sementara ‘kue rizki’ tidak tambah besar, tapi yang berminat makin bertambah. Selama Jakarta menjadi kota ‘segala-galanya’, pendatang tidak bisa dibendung. Masalah kedisiplinan perlu dibenahi, termasuk disiplin dalam bidang transportasi. Kemacetan di Jakarta sudah sangat parah dan dikenal di dunia internasional.

Semua itu menyebabkan para wisatawan mancanegara enggan ke Jakarta. Sementara Singapura tiap tahun kedatangan lebih 20 juta wisman dan Malaysia mencanangkan 20,1 juta wisman. Jakarta sangat tidak mendukung terhadap pejalan kaki. Hampir tidak ada lagi tempat untuk mereka. Trotoar-trotoar kini menjadi rebutan pedagang kaki lima dan kendaraan bermotor.

Kemiskinan Selimuti Ibu Kota

Di bidang kesehatan, Pemprov DKI perlu menata ulang penduduk Jakarta yang punya identitas (KTP). Untuk kepentingan mereka berobat gratis dan mendapatkan jatah beras miskin (raskin) dalam rangka mengentaskan kemiskinan. Saat ini sedikitnya 641.920 penduduk miskin yang memiliki KTP DKI. Diperkirakan masih terdapat ratusan ribu warga lainnya tergolong miskin yang tidak terdata karena tidak memiliki KTP.

Dalam masalah pelayanan masyarakat, aparat pemda mulai dari gubernur, wali kota, camat, sampai kelurahan harus melakukan dengan baik. Karena mereka merupakan abdi masyarakat.

Tidak boleh lagi ada pungli, sementara masyarakat makin kritis. Sanksi berat harus dilakukan terhadap yang melakukan pungli dalam pelayanan masyarakat.

Langganan Banjir

Dalam mengatasi banjir, masalah yang sejak lama muncul, Pemprov DKI perlu kerja sama dengan provinsi sekitarnya. Perlu sanksi yang keras terhadap mereka yang membuang sampah di sungai-sungai. Sedangkan tata ruang perlu dibenahi karena banyak daerah resapan air yang kini telah berubah pungli menjadi ‘hutan beton’ berupa real estate. Pihak real estate sesuai dengan tata ruang juga diharuskan membuat fasilitas umum dan sosial.

Karena pungli dan pemda ‘gampang diatur’, banyak yang tidak memenuhi ketentuan ini. Kita harus berani menegur dan memberi sanksi terhadap yang mengabaikan ketentuan ini.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai pecinta olahraga, terutama sepak bola. Lihatlah betapa antusias masyarakat saat kesebelasan nasionalnya bertanding. Agar olahraga semakin maju, jangan semua lapangan terbuka dijadikan perumahan elite.

Di bidang keamanan perlu perhatian lebih serius akibat makin merajalelanya kriminalitas. Sebagai Ibu Kota, masalah keamanan ini menjadi sorotan dunia internasional. Banyak yang membatalkan niatnya untuk investasi karena Jakarta dianggap kota yang memiliki negara yang punya resiko tinggi. Belum lagi pungli yang sulit dibendung hingga banyak yang mengalahkan usaha ke negara lain.


0 komentar:

Posting Komentar

More Happy